Agent of Peace Solo goes to India

Hai, perkenalkan nama saya Dhafin Izzanarsya (18). Saya akan menceritakan pengalaman saya melakukan kegiatan kerelawanan di India, 9 Januari 2020 – 24 Februari 2020. Saya membawa nilai perdamaian dan Boardgame for Peace  sebagai modal menyebarkan kebaikan. Boardgame for Peace  adalah permainan yang di dalamnya terdapat media pembelajaran berisi nilai-nilai perdamaian. Saya mendapatkannya setelah mengikuti pelatihan Boardgame for Peace (BGFP) Chapter Solo. Boardgame yang dimaksud adalah “The Rampung” dan “Galaxy Obscurio”. Menjalani pelatihan di Boardgame for Peace Solo pada tahun 2018 membuka pandangan saya terhadap isu-isu sosial di masyarakat. Terutama dalam isu perdamaian, baik isu dengan skala lokal, nasional, dan internasional. Pelajaran yang saya ambil dari pelatihan tersebut, saya implementasikan dalam berbagai kegiatan volunteering yang saya alami.

Setelah saya  berkuliah di UNDIP Semarang jurusan Teknik Mesin tahun 2019, saya mencari kegiatan sosial yang dapat saya lakukan di Kota Semarang. Saya dipertemukan dengan AIESEC yang bergerak di bidang kerelawanan internasional. Saya mencari negara dan benua yang saya ingin tuju, serta bentuk kegiatan yang relevan. Saya mengidentifikasi negara yang memiliki prasangka terburuk paling umum, mencari di satu benua yang sama dengan Indonesia, dan tentu budget yang pas. Alasan saya mencari negara dengan prasangka yang umum tidak hanya untuk menghapus prasangka tersebut, tetapi juga mencari kesamaan yang umum dengan Indonesia. Saya memiliki keyakinan bahwa meskipun mempunyai latar belakang yang berbeda-beda tetapi pada dasarnya kita adalah manusia yang mempunyai banyak persamaan.

Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya saya memilih berangkat ke India dalam project NAMASTE 8.0 di Ahmedabad, India. Project itu bergerak di bidang SDG (Sustainable Development Goals) nomer 4 yaitu Quality Education. Dalam perjalanannya, seluruh volunteer diharap dapat mengajar selama 6 minggu dan memperkenalkan budaya lokal di kegiatan itu. Kami mengajar pelajaran-pelajaran eksakta seperti IPA, Matematika, Bahasa Inggris, dan lain-lain. Saya pun memiliki inisiatif sebagai Global Citizen dan Agent of Peace. Saya tidak hanya membawa barang-barang berbau kebudayaan, tetapi juga boardgame yang saya dapat dari BGFP sebagai media menyebarkan nilai-nilai perdamaian.

Saya membawa boardgame “Galaxy Obscurio” dan “The Rampung”. Saya bermain dengan berbagai orang dengan berbagai latar belakang. Semua orang sangat antusias dalam bermain dan menjadi permainan sehari-hari. Saat saya jelaskan nilai-nilai perdamaian di balik game tersebut, mereka terkagum-kagum dan paham tentang nilai perdamaian. Dari hal itu, saya yakin bahwa nilai-nilai perdamaian bersifat universal dan bertujuan mulia untuk memanusiakan manusia.

Selama 6 minggu saya mengajar, saya selalu mencoba untuk membuat lingkungan belajar yang menyenangkan dan memberikan materi tambahan seperti anti-bullying, anti-racism, dan global citizen. Tapi selain mengajar, saya juga belajar banyak dalam kegiatan itu. Dari kehidupan sehari-hari menemui masyarakat lokal, saya belajar bahwa tidak semua prasangka terhadap orang India itu benar. Saya belajar tentang kebudayaan India yang sebenarnya dan menghilangkan banyak prasangka yang tercerminkan dari masyarakat India.

India dan Indonesia memiliki banyak kesamaan, terutama dalam keberagaman agama  dan budaya. Di kegiatan itu, saya juga bertemu banyak orang dari berbagai negara, mulai dari Jerman, Ceko, Uganda, Ethiopia, Mesir, Vietnam, dan lain lain. Termasuk orang-orang dengan  berbagai agama seperti Hindu, Buddha, Sikh, bahkan atheis. Walaupun saya tidak memiliki prasangka terhadap mereka, tetapi saya bisa menjawab prasangka yang ada jika ditanyakan oleh orang lain. Dalam kegiatan itu semua berbaur dan tidak ada masalah satu dengan yang lain. Semua orang bisa bersenang-senang saling mengenal satu sama lain, dan belajar tentang diversity/keberagaman.

Salah satu kegiatan saya disana adalah mengunjungi Gandhi Ashram, satu tempat Mahatma Gandhi pernah tinggal di sana jaman dahulu. Sekarang tempat tersebut menjadi museum perjalanan kehidupan beliau. Gandhi merupakan salah satu tokoh paling influensial menurut saya. Ketika saya berada disana, saya merasa ada hawa yang berbeda ketika membaca cerita Gandhi sebagai ikon perdamaian. Di situ saya semakin yakin atas kebutuhan dunia dan kemanusiaan atas kedamaiaan.

Seluruh rangkaian kegiatan tersebut sangat membekas bagi saya. Now, I’m proud to say that I’m addicted to volunteering. Banyak harapan saya bagi dunia untuk menjadi lebih baik. Seperti yang disebutkan Gandhi,

“You must be the change you wish to see in the world”

Dan saya ingin menjadi bagian dari perubahan tersebut.

Surakarta, 23 Juni 2020

Dhafin Izzanarsya

AoP Chapter Solo ( Alumni Training BGFP 2.0 – tahun 2018)

Daftar untuk mendapatkan info & promosi menarik!