Ferdy; Menyemai Damai Dalam Kearifan Budaya Lokal

Udara terasa dingin pagi itu. Waktu yang nyaman untuk terlelap dalam pelukan selimut dan kelembutan bantalan spring bed empuk seperti biasa kulakukan saat di rumah. Namun, rutinitas itu tak dapat kuteruskan. Sebab ada keharusan yang mesti kuselesaikan. Aku harus bersiap berkelana. Di saat semua orang sibuk dengan masa Pemilihan Presiden 2019 mendatang, aku tengah asik mempersiapkan bekal 3 bulan hijrah ke Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), di sebuah desa kecil Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). 

Pasalnya, ada Desa Binaan bernama Tli’u yang menjadi tempat menetap ku hingga menjelang Idul Fitri tiba. Perlengkapan seperti sanitasi, pakaian, lampu, alat tulis, sampai dengan obat-obatan ku siapkan dalam tas bermuatan 65 liter untuk menjajal kawasan baru yang masih rahasia ini. NTT yang selama ini hanya dapat ku saksikan lewat layar kaca dan pemberitaan media, beberapa saat lagi akan ku sambangi. 

Hari demi hari masa karantina di Bandung terlewati. Cerita perjalanan ku pun dimulai. Suara mesin burung besi di Bandara Bandung yang terdengar bising sekali menjadi saksi keberangkatan ku dan Sean ke NTT. Bergantian pula terdengar sahutan antar kru yang menginformasikan jadwal penerbangan pesawat. “Kepada penumpang pesawat Garuda Indonesia tujuan Bandara El Tari NTT, diharap segera menaiki pesawat dikarenakan pesawat akan segera lepas landas,” dengarku dari mikropon informasi Bandara untuk penerbangan pesawat yang ku tumpangi sekitar pukul 15.30 WIB.

Menghabiskan waktu hingga 8 jam perjalanan dan cukup banyak menguras tenaga, sekitar pukul 04.00 WIT dinihari, aku dan dan teman dinas ku Sean, pemuda asal Padang tiba di Desa Binaan Tli’u dusun Mnelabesa NTT. Sebuah perkampungan yang dihuni oleh masyarakat dengan mayoritas beragama Kristen, Protestan, Katolik dan Islam yang masih minoritas. Tapi aku tidak akan membahas persoalan mayoritas maupun minoritas dalam tulisanku. Karena bahasan itu hanya soal jumlah saja dan tak mempengaruhi diriku.

Memang bukan kali pertama aku tinggal dan berbaur dengan insan yang berbeda agama. Di daerah asal ku Riau, sejak kecil teman se-permainanku bukan hanya muslim, bahkan kebanyakan dari yang tidak se-agama dengan ku. Tapi yang satu ini berbeda dan menarik. Saat ku menapakkan kaki di sana, ada kedamaian yang kulihat dan kurasakan antar insan di sini. Aku juga tidak tahu jelas bentuk damai itu seperti apa karena baru datang. 

Berhari-hari ku cari, apa sebenarnya yang membuatku penasaran tentang konsep damai di Mnelabesa. Namun tetap saja ku belum temui hasil. Hingga suatu ketika, ternyata kedatangan ku dan Sean di Mnelabesa bertepatan dengan musim panen jagung. Jagung yang merupakan hasil panen dari rutinitas bercocok tanam warga setempat sudah menjadi mata pencaharian tiap keluarga di Desa Tli’u dan beberapa desa di Kecamatan Amanuban Timur Kabupaten TTS, Provinsi NTT. Bahkan jagung termasuk makanan pokok mereka selain beras. Banyak olahan jagung yang dibuat menjadi bose, nasi titik, jagung bunga dan olahan lainnya. “Belum lengkap rasanya makan kalau belum dibarengi dengan hidangan jagung,” tutur Amin Banamtuan salah seorang warga asli Desa Tli’u.

Amin pun menjelaskan bahwa di setiap panen jagung biasanya warga akan mengadakan syukuran di kediamannya dan mengundang warga lain untuk turut berdoa. “Ini dilakukan masyarakat sebagai bentuk ucapan syukur pada Tuhan,” jelas Pria dengan postur badan kekar ini.

Selang beberapa hari Amin bercerita, tak disangka mampir pula undangan untuk ku dan Sean agar menghadiri syukuran jagung di rumah warga. Ada sekitar tiga sampai empat rumah di sana yang kami hadiri saat itu. Aku yang tadinya bias tentang konsep damai warga di Mnelabesa, perlahan mulai temukan balutan damai yang dianut masyarakat dalam gelaran syukuran jagung. Berkumpul dalam satu forum dengan agama yang berbeda, tak terlihat kesan canggung untuk saling berinteraksi. Bahkan masyarakat saling berbagi gelak tawa disela-sela acara. Barulah kumengerti, ternyata konsep damai yang mereka bangun bukan hanya perihal agama, tapi keluarga. 

Bagi mereka panggilan yang mengatasnamakan keluarga lebih berkesan dan ditanggapi daripada mengundang atas nama agama. Memang benar, merata warga di Tli’u Dusun Mnelabesa adalah saudara. Kebanyakan dari Ayah dan Ibu mereka masih ada hubungan persaudaraan. Meski begitu, mereka menganut agama yang berbeda-beda. Mereka meyakini setiap manusia berhak memilih agama apapun yang mereka imani benar tanpa ada paksaan. Dan budaya yang coba mereka bangun untuk tidak memprovokasi satu sama lain tentang isu agama ini yang paling baik dan agama itu tidak baik. Hal itu diwarisi hingga ke anak cucu. 

Disitu baru kusadar bahwa toleransi bukan hanya soal agama, namun dalam hubungan keluarga juga ada toleransi yang begitu besar nilainya. Dan itulah yang selama ini sudah dijalankan masyarakat Desa Tli’u Dusun Mnelabesa yang terbagi dalam banyak marga, mulai dari Lenamah, Banamtuan, Natonis, Lete, Nenoliu, Solle, Ali, Ita, Nenosaet, Sau dan banyak ragam marga lainnya yang berbeda namun tetap berteman.

Singkat terasa kediamanku di sini. Tak sadar sudah hitungan bulan pula masyarakat Timor Tengah Selatan membersamai ku dalam suka maupun duka menjalankan program kerelawanan ini. Tentu banyak cerita yang kudapat dan pengalaman berharga yang tak sempat kutuliskan. Ketulusan dan keikhlasan mereka menerima ku itu jadi hal yang sangat kuhargai. Meski kadang mendapati masalah di tengah jalan, tapi anak-anak mereka selalu menjadi pengobat bagiku untuk selalu bersemangat mengabdi. 

Keseharianku memang tak lepas dari mengajar di sekolah. Kegiatan itu juga sudah menjadi rutinitas buat ku dan Sean di setiap hari nya. Tetapi, tak hanya mengajar yang ku lakukan. Aku juga belajar banyak budaya dari masyarakat. Mulai dari bahasa, pakaian, rumah adat, hingga makanan. Sembari belajar tentang kearifan lokal, senyum merah sirih pinang dari bibir mereka juga mengawal pertemanan kami. Mereka sebut, “Katong semua basudara. Jadi tidak perlu sungkan berteman”.

Begitu banyak pelajaran yang kudapati saat menjalankan program mulia ini. Ku belajar “menyemai damai dalam kearifan budaya lokal”. Pribadiku juga belajar banyak tentang sabar, ketulusan berbagi, dan hidup dalam lingkaran toleransi antar satu dengan yang lain. Hal itu ditujukan untuk banyak berbuat dan bermanfaat bagi orang lain. Mendidik dan memberi sedikit apa yang ku punya untuk kebaikan generasi muda. Mungkin yang ku berikan selama 3 bulan tidak terlalu berdampak besar, tapi ku selalu belajar mengedukasi tanpa mendominasi orang yang yang kuberi edukasi. Berusaha memposisikan diri sesuai dengan suasana hati orang yang dididik. Menghilangkan segala bentuk keangkuhan merasa paling hebat dan berkuasa atas diri orang lain. Karena kusadar, ilmu akan bertambah dan semakin Tuhan berkahi saat kita sering berbagi kebaikan dengan orang lain.

Seperti hal nya ku mengajarkan Nilai Perdamaian kepada anak-anak di Timor Tengah Selatan. Mereka yang notabene dalam kesehariannya terbiasa dengan kekerasan, cukup sulit mengubah persepsi bahwa kekerasan bukan lah satu-satunya cara untuk memberi efek jera pada seseorang. “Kekerasan itu boleh dilakukan sebagai bahan ajar untuk membuat orang lain lebih mengerti dibandingkan harus menggunakan cara yang lebih lembut. Karena kalau tidak diberi sedikit gertakan kekerasan fisik, mereka tidak akan berubah dan sadar kesalahan yang ia perbuat,” anggap salah satu anak didik ku di Sekolah Dasar Muhammadiyah 1 Mnelabesa.

Namun, lambat laun argumentasi itu mulai cair. Pribadi yang tadinya keras perlahan mulai berpikir bahwa tidak selamanya otot jadi jalan akhir dari penyelesaian sebuah masalah. Anak-anak mulai menyadari bahwa kekerasan hanya akan menambah masalah dan memunculkan konflik baru. Meskipun awalnya sedikit berat untuk berjanji, tetapi mereka mulai aktualisasi diri untuk tidak menjadikan kekerasan sebagai alasan untuk mendidik teman sejawatnya. Mereka berjanji menolak kekerasan dan menggunakan otak bukan otot untuk menemukan solusi dari permasalahn yang dihadapi. Memahami konflik sebagai proses pendewasaan diri. 

 

Penulis: Ferdy One Effendi. Hsb (Kakak  Cerdas dari Riau, penempatan di NTT)

Kamu AoP punya cerita perubahan? Kirimkan ceritamu ke aop@peacegen.id

 

Daftar untuk mendapatkan info & promosi menarik!