Naomi Parubak: Jadikan Perdamaian Sebagai Bagian Hidup

Halo namaku Naomi Parubak. Biasa disapa Naomi. Lahir di sebuah desa di Toraja Utara. Semesta bergerak membawaku ke Makassar dan masih betah di sini hingga sekarang. Januari tahun 2019 adalah awal perkenalanku dengan dunia pendidikan perdamaian. Saat itu bergabung sebagai volunteer di Yayasan KITA Bhinneka Tunggal Ika namun sekarang sudah menjadi officer di yayasan ini. Saya sangat senang sekaligus merinding saat tahu bahwa ada orang-orang yang berjuang secara sukarela untuk pendidikan perdamaian dan anti kekerasan, oleh karena itu saya antusias menyambut tawaran untuk bergabung menjadi bagian di sini.

Tapi mari kita mundur beberapa langkah ke belakang melihat bagaimana prosesnya ada di sini. Sama seperti orang lain pada umumnya, sehari-hari bekerja sebagai orang kantoran. Tiap hari terlihat sibuk di balik meja kerja bergelut dengan tumpukan laporan, sesekali terjun ke lapangan untuk mengecek kesesuaian data rill dengan data yang ada dalam buku. Karena rutinitas ini berulang-ulang menjadikanku merefleksi banyak hal tentang kebermanfaatan bagi lingkungan sosial yang lebih besar yang seharusnya kulakukan lebih dari sekadar karyawan kantoran.

Simak Kisah Perubahan lain dari para Agent Of Peace di sini!

Pertama kali bergabung sebagai volunteer perdamaian, dibekali ilmu lewat training indoor dan outdoor serta proses belajar selama 6 (enam) bulan dalam program Akademi KITA bernama Peace & Leadership Class. Melalui proses ini saya jadi sedikit paham bagaimana memahami, melakukan, dan menyebarkan perdamaian. Lebih dari pada itu juga harus memahami apa misi besar di depan.

Bekerja di jalur perdamaian membuat saya sadar bahwa saya harus belajar banyak hal. Salah satu program yang dijalankan di KITA Bhinneka adalah Sekolah Anak Bangsa (SAB). SAB adalah wadah bagi anak-anak putus sekolah untuk belajar banyak hak termasuk perdamaian. Siswanya berasal dari salah satu pesantren di Makassar serta anak-anak jalanan yang putus sekolah. Menghadapi mereka yang mempunyai latar belakang dan pergaulan yang berbeda tapi justru disatukan dalam satu ruang kelas yang sama setiap minggunya membutuhkan usaha ekstra dan tantangan tersendiri agar kelas bisa kondusif, agar mereka tahu bagaimana saling menghargai dan saling menyayangi.

Selain mengajar di SAB juga menjadi bagian dari pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan oleh KITA Bhinneka seperti Training For Peace Educators, Training Fasilitator, Training Guardian of Peace. Aktif berdisikusi dengan komunitas-komunitas dalam Aliansi Perdamaian Makassar untuk  menyebarluaskan perdamaian.

Pada September 2019, saya berkesempatan untuk ikut Training For Peace Educators yang diselenggarakan oleh  PeaceGen di Bandung. Dalam pelatihan ini, saya semakin disadarkan akan nilai-nilai perdamaian yang selama ini belum terlalu mendalam saya dapatkan.

Dari perjalanan mengenal nilai-nilai damai itu, saya jadi sangat senang membuat diskusi-diskusi kecil dengan teman dekat, teman di komunitas literasi, teman di gerakan pendidikan, teman gereja dan sampai pada keluarga saya sendiri. Bahan diskusinya macam-macam tentang nilai-nilai perdamaian yang selama ini saya dapatkan dari KITA dan PeaceGen.

Lalu kenapa melakukan hal ini? Ketika beberapa kali ikut kegiatan sosial ke sekolah-sekolah dasar di beberapa daerah, masih sering saya temui tindakan pendisiplinan yang mengarah pada kekerasan yang terjadi dari guru terhadap siswa, perkelahian atau bullying antar siswa serta tidak jarang terjadi tindakan kekerasan antara siswa dan guru.

Saya tidak dapat membohongi hati bahwa ada pada jalur ini sungguh menggugah hati untuk berkomitmen terus ada. Karena di setiap sudut kehidupan ada bermacam-macam kasus yang harus disentuh dengan perdamaian. Lalu haruskah berpangku tangan akan hal itu? rasanya tidak.

Hal inilah yang menguatkan saya untuk terus berkomitmen ada pada jalur ini. Saya merasa bahwa mengajarkan dan memfasilitasi perdamaian bukan hanya berbicara tentang sebuah pelatihan yang besar atau harus mengajarkannya dalam ruang-ruang pendidikan formal tetapi lebih dari pada itu, pada ruang-ruang interaksi keluarga dan lintas pertemanan pun perlu digiatkan.

Tantangan pasti akan selalu datang silih berganti. Tapi saya percaya untuk itulah setiap agen perdamaian hadir untuk merawatnya menjadi semakin baik.

Dalam hati setiap orang akan selalu terdapat setitik damai, tinggal bagaimana kita hadir untuk membuatnya menjadi besar dan berdampak minimal pada diri orang tersebut.

Seperti kata pepatah “dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”. Dari sini kita dapat mengambil makna bahwa di dalam jiwa yang kuat terdapat pemikiran yang sehat, dari pemikiran sehat itu terdapat tindakan-tindakan yang positif. Tindakan positif ini akan menimbulkan damai di dalam setiap pergaulan kita. Semakin dipupuk, damai itu akan semakin membawa dampak yang baik kepada sekitar.

Jika hal tersebut menjadi sebuah kesadaran bagi setiap orang maka percayalah akan tercipta dunia yang damai.

Damai dalam diri, keluar ke lingkungan keluarga, pergaulan, masyarakat dan dunia.

Seperti yang kukatakan, tantangannya pasti banyak karena ketika kita semakin sadar akan pentingnya damai maka semakin besar pula tantangan yang dihadapi di depan. Perang antar suku atau kelompok, kekerasan antara senior dan junior di berbagai universitas, tindakan kekerasan terhadap kaum rentan, kesenjangan sosial, bullying di ruang-ruang pendidikan atau bahkan bullying dalam pergaulan yang sering kali tidak dipahami oleh teman sendiri dan masih banyak lagi.

Kita perlu sadar untuk menjadi agen perdamaian yang aktif menjadikan damai itu kian merebak ke tengah-tengah dunia ini.

Bagaimana caranya memulai? mulailah dari diri sendiri, perkaya diri dengan pengetahuan dan refleksi mendalam. Salah seorang mentor mengatakan hal ini kepada saya beberapa waktu lalu “jadikan misi ini as a unit”. Maksudnya apa? misi ini jangan kamu lakukan secara sendiri-sendiri, tetapi libatkan orang lain, keluargamu dan yang lainnya karena misi ini akan tercapai jika orang-orang disekitarmu mendukungnya.

Jadi, tunggu apalagi, mari kita sama-sama melakukan yang terbaik untuk dunia yang damai.

Salam kasih dan damai untuk kamu 🙂

Oleh: Naomi Parubak

Editor: Hayati

Kamu AoP punya cerita perubahan? Kirimkan ceritamu ke aop@peacegen.id

 

Peace People, untuk informasi lebih lengkap tentang PeaceGen silahkan klik di sini!

 

Daftar untuk mendapatkan info & promosi menarik!