Linta; Mengapa Aku Masih Menyebarkan Virus Perdamaian?

Hai, namaku Linta. Aku adalah Agent of Peace dari Yogyakarta. Sudah sepuluh tahun lamanya aku hidup di kota ini dan melakukan banyak aktifitas. Selama SMP hingga SMA aku tinggal di asrama bersama banyak teman. Hidup di asrama memberikan banyak pengalaman dan pembelajaran. Hidup berdampingan itu mengajarkan toleransi dan membangun hubungan yang damai. Mungkin semenjak hidup bersama teman itu aku semakin mengerti bahwa perbedaan yang ada dapat mewarnai hubungan kita.

Satu tahun setelah aku lulus SMA, aku bergabung dalam satu organisasi pelajar. Organisasi itu bernama IPM atau Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Kebetulan karena aku kuliah di Fakultas Hukum, maka aku ditempatkan di bidang Advokasi. Bidang advokasi di IPM fokus pada isu perdamaian di kalangan pelajar. Saat aku berada di bidang tersebut, aku mulai dekat dengan kasus tawuran pelajar. Beberapa kali aku melakukan advokasi terhadap pelajar yang menjadi korban tindakan tersebut. Bahkan yang paling membuat aku miris adalah ketika ada satu korban yang meninggal akibat penyerangan oleh kelompok sekolah lain.

Sebagai seorang mahasiswa yang aktif dalam dunia pelajar, aku semakin resah. Pikirku waktu itu, bagaimana caranya agar konflik antar pelajar ini dapat usai. Aku kadang merasa tidak punya kompetensi untuk menyelesaikannya. IPM ini juga bukan aparat, bukan advokat, bukan pendidik juga yang punya kewenangan untuk menangani. IPM ini adalah wadah pemberdayaan pelajar. Maka cara yang paling tepat adalah dengan memberikan edukasi dan kampanye tentang perdamaian bagi para pelajar.

Tidak lama setelah keresahan itu muncul, aku mengenal Peace Generation. Menarik sekali bagiku kampanye perdamaian yang dilakukan oleh Peace Generation. Tanpa berpikir panjang, aku mantab untuk mengikuti Training Fasilitator yang diadakan oleh PeaceGen di Lembang, Jawa Barat. Berbekal kemauan yang kuat dan rasa ingin tahu, aku berangkat seorang diri dan mengikuti acara tersebut.

Selama training aku benar-benar merasa nyaman. Banyak orang yang mengikuti acara ini, juga datang dengan niat yang sama; untuk mengajarkan perdamaian. Ada banyak berprofesi sebagai guru, seniman, pegiat komunitas, dan lain sebagainya. Mereka sangat ingin menjadi agen perdamaian dan membawa misi damai ke dalam lingkungan masing-masing. Oh iya, bukan hanya latar belakang profesi yang berbeda, namun diantara kami juga terdapat perbedaan suku, agama, bahkan usia. Disana kami membaur saling berbagi kisah dan semangat.

Selepas mengikuti training tersebut, aku punya identitas baru sebagai seorang Agent of Peace. Hal itu memberikan banyak perubahan pada cara berpikir maupun berperilaku. Aku juga selalu menyuarakan tentang 12 nilai perdamaian dalam setiap kegiatan IPM. Banyak orang merasa senang dan tertarik dengan metode edukasi perdamaian yang dikembangkan oleh PeaceGen. Aku juga semakin percaya diri menjadi AoP, terlebih media belajarnya seru dan mendapat pendampingan dari AoP Coordinator.

Suatu ketika, ada kegiatan Peacetival. Kalau tidak salah acaranya di Ciwalk Bandung. Mendengar hal tersebut, aku langsung berangkat kesana untuk ikut memeriahkan. Aku juga mengajak temanku untuk ikut, harapannya agar semangat perdamaian ini semakin menyebar dan diteruskan olehnya. Kami berangkat malam hari dengan menggunakan kereta, kemudian pagi harinya kami menuju Ciwalk, dan sorenya kami sudah kembali lagi untuk pulang ke Jogja. Ah, perjalanan singkat itu masih membekas hingga saat ini. Bukan hanya Bandung, aku bahkan berangkat ke acara Pertemuan AoP sekaligus Peacetival di Bali. Menyenangkan sekali rasanya menjadi bagian dari setiap kegiatan PeaceGen.

Setelah mengikuti kegiatan PeaceGen dan bertemu dengan para penggeraknya aku selalu mendapatkan inspirasi. Terlebih ketika bertemu dengan Kang Irfan Amalee, tutur katanya sangat damai seakan me-recharge semangatku untuk terus menyebarkan perdamaian. Aku mulai belajar membuat acara PeaceGen di Kota Yogyakarta. Alhamdulillah, aku telah melaksanakan kegiatan PeaceSantren selama dua tahun berturut-turut. Juga pernah menjadi bagian dari kegiatan Sekolah Cerdas di Yogyakarta.

 

Aku sadar, untuk menyebarkan perdamaian kita harus semangat dan konsisten. Aku juga sudah membuktikan, banyak sekali orang yang terbantu dengan adanya PeaceGen. Media pembelajaran perdamaiannya sangat menarik sehingga mudah untuk memahami tentang 12 Nilai Perdamaian, tidak terbatas siapapun yang ingin mengenalnya. Aku masih ingin menjadi AoP dan menyebarkan perdamaian bersama PeaceGen. Ayo dong ceritakan pengalamanmu, agar aku bisa recharge semangat menyebarkan virus perdamaian!

 

Penulis : Linta Bahraine (Koordinator AoP Yogyakarta)

Kamu AoP punya cerita perubahan? Kirimkan ceritamu ke aop@peacegen.id

Daftar untuk mendapatkan info & promosi menarik!