M. Syahdan Keliat: Mengenali Diri Melalui Emosi

Luapan Perasaan Karena Masalah

Aku adalah sosok yang sulit mengendalikan emosi. Bagiku, susah sekali untuk beramah-tamah atau tersenyum di depan teman-teman.

Pernah suatu hari, saat aku dan teman-teman berkumpul mereka menanyakan kenapa aku sulit sekali untuk bermuka manis dan ramah pada orang disekitarku. Tapi, aku malah menjadi marah, murka dan memaki mereka.

Aku beranggapan bahwa mereka memaksaku untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Atau kejadian lain ketika aku kehilangan orang yang aku sayangi, membuat aku sedih berbulan-bulan dan menyebabkan aku jatuh sakit.

Beberapa kasus di atas mungkin pernah dialami oleh kalian para pembaca. Banyak orang kehilangan pengendalian dirinya ketika mengalami masalah dan ini dulu sering terjadi padaku.

Ini dikarenakan emosi yang berlebihan –baik itu sedih, marah, benci, senang dan lain-lain– menguasai kesadaran diriku. Emosi yang tidak terkendali akan berbuntut panjang di masa mendatang. 

Mari pikirkan. Jika kamu dikendalikan emosi lalu menghakimi orang lain, otomatis orang tersebut akan menaruh rasa benci atau lebih parahnya menaruh dendam kepada kamu, sehingga dia memutuskan untuk tidak ingin bertemu kamu lagi selamanya.

Objektif Dalam Mengambil Keputusan

Keputusan tepat ketika aku mendaftarkan diri untuk menjadi mentor dalam program Frosh Project yang diadakan oleh Peace Generation Indonesia (Peacegen).

Dari program ini aku mendapatkan pelatihan untuk setiap materi dari program tersebut. Salah satu hal yang berkesan dan mengubah pandangan hidupku yaitu ketika memasuki quest castle of soul

Di quest ini setiap manusia diajak untuk mengenali dirinya sendiri dengan melalui permainan gestur wajah. Saat cerita yang diberikan sedih maka aku dan teman-teman mentor yang lain harus menunjukkan muka sedih, begitu juga sebaliknya.

Permainan pun selesai dan kami diberikan beberapa pertanyaan oleh mentor dari Peacegen, seperti “Bagaimana bermain denganku (emosi)?”, “Mengapa aku suka roller coaster dan gampang berubah?” dan “Mengapa aku harus dikendalikan?” tiga pertanyaan ini langsung membuat aku berpikir keras.

Selama ini aku sadar, aku terlalu sangat dikendalikan emosiku sendiri, sehingga orang-orang yang ada disekitarku banyak yang mengatakan kalau aku egois, pemarah, lebay, tidak punya adab dan banyak lagi.

Pertanyaan pertama yang diberikan membuat aku sadar bahwa betapa lelahnya jika emosi berubah-ubah terus-menerus, energi terbuang sia-sia dan tubuh gampang jatuh sakit.

Dari sini aku mulai terus mengasah diriku untuk mengendalikan emosi, mulai dari berpikir yang dalam untuk mengambil setiap keputusan, misalnya aku ingin menambah koleksi buku baruku, sedangkan buku-buku yang sebelumnya belum habis kebaca. 

Mulailah aku mempertanyakan pada diriku sendiri, untuk apa membeli buku baru? Kepentingannya apa, apakah hanya untuk menambah koleksi, atau benar-benar membutuhkannya?

Dari pertanyaan-pertanyaan itu aku sering mengurungkan niat jika ingin membeli buku baru, apalagi itu tidak terlalu penting bagiku. Atau contoh lainnya ketika aku marah, maka di sini aku akan terus bertanya pada diriku seperti;

“Kenapa aku harus marah, bukannya lebih baik aku berpikir tenang dan mencari kebenaran dari suatu permasalahan?” hal ini sangat efektif dalam meredakan emosi berlebihan yang menguasai diriku.

Dari sinilah aku memutuskan bahwa porsi pengambilan keputusan, harus melibatkan akal 50% dan perasaan 50% . Porsi ini sangat penting. Selain seimbang, diriku juga akan lebih baik dalam memutuskan sesuatu. Jikalau tidak mendapatkan apa yang tidak diinginkan setidaknya diri ini tidak menjadi depresi dan larut dalam kesedihan.

Cara Pandang Menyelesaikan Masalah Dalam Diri

Dalam menyelesaikan masalah cara pandang adalah faktor utama untuk menentukan langkah yang kita ambil apakah benar atau salah.

Bayangkan saja ketika kamu dalam keadaan emosional sedangkan disaat itu ada teman kamu memberi kabar rencana jalan-jalan yang telah lama dipersiapkan seketika batal, otomatis kamu akan mara-marah gak jelas, lempar bantal ketembok, atau lebih parahnya kamu memaki teman kamu yang tak bisa dikatakan salah.

Sebaiknya sebelum mengambil keputusan kamu harus cari informasi terlebih dahulu sebanyak-banyaknya, setelah itu disaring mana yang baik dan mana yang buruk dalam sebuah informasi, baru kamu bisa mengambil keputusan secara objektif. 

Cara pandang kita yang pendek seringkali membuat keadaan kita semakin menjadi terpuruk. Ini yang harus kita antisipasi kalau tetap mau memiliki teman yang perduli pada kita dan karir yang tidak hancur di masa depan.

Oleh karena itu, sebelum mengambil keputusan selain mencari dan mencerna informasi, kita juga harus mengendalikan perasaan/emosi kita supaya apapun keputusan yang kita ambil tidak merugikan kita maupun orang lain.

Kita seringkali melupakan keberadaan diri dan manusia lain. Akibatnya kita dikuasai emosi, menganggap orang lain rendah, dan menjadikan diri budak dari kesalahan.

Mulailah kita mengenali diri kita dengan sesadar-sadarnya apa yang kita perbuat, apa yang kita katakan, dan apa yang kita punyai.

Dengan begitu hidup kita akan menjadi lebih indah, nyaman, dan teman-teman yang ada di lingkungan kita akan terus bertahan.

Kendalikan emosi dirimu ya guys.

Oleh: M. Syahdan Keliat, MENTOR FROSH UPI

Editor: Faza

Kamu AoP punya cerita perubahan? Kirimkan ceritamu ke aop@peacegen.id

Daftar untuk mendapatkan info & promosi menarik!