Minarty; Membangun Negeri Mulai dari Diri Sendiri

Apa kabar, Peacemakers! Sebenarnya aku sudah tahu tentang 12 Nilai Dasar Perdamaian dari Tahun 2009, ketika aku SMP. Tetapi baru benar-benar menjadi trainer di Tahun 2013. Aku baru ikut semua rentetan mulai dari Peace Camp hampai Training for Trainer.

Oh, ya, aku adalah AoP (Agent of Peace) yang dibentuk oleh Team PIS Movement Bali di Gorontalo dan aku adalah Generasi ke-3. Terhitung sejak tahun 2016, aku bergabung dengan PIS Movement di Bali.

Di Gorontalo sendiri kami sudah melakukan Peace Camp di beberapa sekolah. Semenjak aku ikut Peace Camp dan ditraining, aku tak berhenti untuk berbagi 12 Nilai Dasar Perdamaian di tanah air ini.

Dari Tahun 2013, sebenarnya aku adalah guru PAUD dan Tata Usaha di salah satu SMP di Kabupatenku. Semenjak mengenal 12 Nilai Dasar Perdamaian, aku merasakan perubahan yang besar dalam diriku sendiri.

Selain itu muncul sebuah niat membagikan pengalamanku ke teman-teman dan adik-adik generasi di bawahku. Karenanya, sampai sekarang aku tak lelah menebarkan nilai perdamaian. Niat itu ternyata sudah mengakar dalam diriku.

Di Gorontalo, awalnya aku hanya Fokus di sekolah-sekolah dan lingkungan teman mainku saja. Namun, di tahun 2016 aku pindah ke Bali dan menjadi penanggung Jawab gerakan PeaceMakers Bali. Waktu itu PIS Movement membuat Peace Camp sekaligus Training For Trainer yang dihadiri oleh para pemimpin dari 26 Kota.

Ada mahasiswa, dokter, hingga anggota dewan. Dan tentunya mereka juga berlatar belakang keyakinan dan suku yang berbeda. Itu sangat mengasyikan.

Awalnya, timku yang di Bali juga banyak yang berlatar belakang berbeda, dan kami semua adalah orang yang memiliki kesibukan masing-masing. Di antara kami ada yang menjadi karyawan swasta, politikus, agen travel, pengusaha, bahkan fotografer, pemain skaeboard dan surfing. Namun itu tak menjadi halangan untuk kami  bergerak. Kami selalu menikmati proses yang semakin hari semakin membuat kami bersatu.

Oh, ya. Kami bersyukur sampai di tahun ini kami sudah punya partner di 36 kota di Indonesia, dan di 2 Negara: Malysia dan Amerika. Di Bali sendiri PIS Movement sudah ada di 6 Kabupaten. Tahun ini kami mendapatkan penghargaan dari Kemenkumham karena membawa 12 Nilai Dasar Perdamaian ke LPKA (Lembaga Pemasyarakatan Khusu Anak) di Karang Asem.

Hasil dari Kalapas menyatakan bahwa ada perubahan sikap dan Kkarakter dari Anak-anak. itu menjadi hadiah bagi kami. Kami tak berhenti di situ saja. Kami bawa teman-teman dan komunitas untuk berbagi Ilmu dan keahlaian ke LPKA tersebut.

Beberapa dari anak-anak LPKA itu mengalami perubahan hidup yang luar biasa. Ada yang sudah menjadi barista, chef, pastry, surfer, dan Skaters. Ada juga yang sudah kerja di tempat lain. Nah, mereka yang sudah mengalami perubahan hidup ini setiap minggu bergantian datang ke LPKA untuk berbagi ilmu dan pengalaman.

Tahun 2017 kami berdoa bersama agar kami memiliki satu wadah untuk anak muda berkreasi, serta tempat kami usaha agar pergerakan ini tetap berjalan. Sampai akhirnya di tahun 2017 kami mempunyai coffee shop yang bernama Hope (House Of PeaceMakers) Coffee Bali.

Tempat ini menjadi wadah anak muda berkumpul sekaligus ngopi dan belajar nilai-nilai perdamaian. Ya, sesederhana itu, namun banyak tantangan yang dihadapi dan kami lewati sampai detik ini. Intinya, aku bersyukur memiliki tim yang rela bekerja keras untuk masa depan generasi nanti. Selain itu, banyak juga tantangan yang kami hadapi.

Setiap hari Selasa kami mengadakan PeaceMakers Club di Hope Coffee Bali, dan setiap Sabtu kita juga mengadakan kegiatan di LPKA Karang Asem Bali. Kita mengadakan Training For Trainer 3 Bulan sekali. Mudah-mudahan kedepannya akan ada TFT di setiap bulannya. Do’akan saja.

Nah, sekarang kami juga sedang dipercaya untuk masuk ke Lapas Narkotik yang ada di Bali. Kalau di kota lain, minimal 1 tahun sekali kami bisa mengadakan coaching clinic untuk berbagi tantangan yang dihadapi sekaligus mengikuti TFT yang diadakan di Kota itu. Tak hanya aku sendiri saja yang mengerjakan, ada juga teman-teman yang selalu punya hati dan visi yang sama hingga gerakan ini tetap hidup.

Kenapa kami tak pernah berhenti menebarkan “virus” perdamaian? Karena di negeri ini kami melihat sedang terjadi krisis anak muda. Aku melihat bagaimana anak muda pengguna narkoba, sifat intoleransi, dan seks bebas ada di sekitarku.

Aku sendiri sempat terbawa dalam pergaulan itu ketika masih SMA. Tapi aku bersyukur itu tak berlanjut sampai sekarang. Minimal aku bisa rekonsiliasi dan menang dengan diriku sendiri. Dari sana aku selalu menceritakan perjalanan perubahanku kepada teman-teman.

Jujur aku sempat frustrasi melihat berbagai permasalahan yang ada di negeri ini. Aku berpikir keras bagaimana caranya agar aku bisa ikut andil dalam membawa perubahan di negeri ini. Ya, salah satu jalnnya adalah dengan menanam DNA perdamaian dari generasi paling muda hingga tua.

Sebab perdamaian seperti virus yang tak bisa mati dan habis. Semakin hari semakin banyak orang yang ingin ikut menebarkan perdamaian, entah itu di dalam negeri, atau dari teman-teman di belahan dunia lain.

Awalnya, teman-temanku berkata bahwa aku seperti kurang kerjaan. Tapi aku bertekad kalau bukan aku siapa lagi? Kadang aku dan tim merasa lelah bahkan frustasi, tetapi kami tetap bersatu, dan percaya ini akan kami terus lakukan. Tak berhenti. Itu sangat menguatkan kami. Beberapa bulan terakhir ini kami fokus bergerak di Lombok, Sumbawa dan Palu.

Jujur, saat itu merupakan pengalaman pertamaku menginap dengan orang-orang asing dalam keadaan ancaman gempa. Namun kami memberanikan diri untuk saling berbagi cerita hidup masing-masing.

Selain itu, kami juga memasak bersama, belajar bersama, bahkan pergi ke kebun bersama. Setiap pagi aku harus jalan kaki pergi ke sekolah sejauh 1 km dari tenda tempat kami menginap. Tapi itu menjadi pengalaman yang luar biasa.

Waktu kami berbagi tentang 12 Nilai Dasar Perdamaian di salah satu sekolah, pihak Dinas Pendidikan merespons positif kegiatan kami itu. Oleh mereka kami difasilitasi saat akan mentraining guru SD dan SMP se-Kecamatan Gangga, Lombok.

Bahkan oleh Kepala Dusun setempat kami diberikan tanah 1 are untuk kami bangun rumah agar bisa menginap di Desa tersebut. Untuk memaksimalkan tempat itu, kami juga membangun Rumah Pintar untuk anak-anak dan warga setempat. Tempat itu juga bisa menjadi tempat bertemu para Karang Taruna untuk berkarya.

Kami mempunyai 2 desa binaan di Lombok. Kedepannya desa itu bisa menjadi Kampung Damai. Anak-anak di sana kita bekali dengan 12 Nilai Dasar Perdamaian dan beberapa ilmu pengetahuan agar mereka bisa unggul.

Tak hanya itu, kami juga memberi pendidikan karakter pada mereka. Do’akan saja semoga apa yang kami lakukan dan kerjakan ini bisa berguna bagi generasi nanti.

Saat Gunung Agung Meletus tahun 2017 hingga gempa Lombok dan tsunami tahun 2019 ini, kami berusaha ikut hadir di tengah-tengah korban dengan membawa 12 Nilai Dasar Perdamaia. Untuk kalian yang ingin berkontribusi untuk negeri ini, jangan menunggu sukses dulu. Kalian bisa mulai dari diri kalian sendiri.

Itu sangat sederhana. Untuk kalian yang ingin berkunjung ke Bali, bisa langsung datang ke Hope Coffee Bali untuk mengenal lebih jauh dan bergerak bersama kami menyebarkan perdamaian di negeri ini. Aku tunggu kedatangannya di Bali, ya!

Penulis: Minarty

Editotr: Zulkifli Fajri Ramadan

Kamu AoP punya cerita perubahan? Kirimkan ceritamu ke aop@peacegen.id

Daftar untuk mendapatkan info & promosi menarik!