Widodo; Apa Yang Manis di Ambon?

Berada di tempat yang asing tentunya akan ada banyak hal yang menarik untuk dilihat dan di pelajari. Sebagai Kakak CERDAS yang di tempatkan di negri para raja, Maluku dengan membawa misi untuk bebagi pentinya mitigasi bencana alam dan bencana sosial seakan berjodoh dengan apa yang pernah terjadi di pulau nan indah, namun memiliki catatan bencana alam dan konflik yang suram.

Ambon Manise, seperti namanya banyak sekali hal-hal manis dan menarik yang bisa ku dapatkan dan pelajari di pulau penghasil Pala dan Cengkeh ini, dimulai dari rasa kekeluargaan yang erat, semangat gotong royong yang masih tejaga, bahasa baru serta makanan khas yang menggugah selera bahkan pemandangan alam nya yang selalu memanjakan mata. Semua menarik, setiap moment begitu berharga, namun disini ingin ku jabarkan pengelaman yang berharga dan belum pernah ku temukan di tempat yang pernah kukunjungi sebelumnya. Hal ini ku temukan saat sedang melaksanakan beberapa kegiatan Sekolah CERDAS salah satunya “ PeaceSantren”. Seperti namanya, kegiatan ini di ambil dari dua kata “Peace dan Pasantren” yang bertujuan untuk menebarkan nilai-nilai perdamaian, akan tetapi tak sama dengan kegiatan Pasanten biasanya yang diadakan seperti mesjid ataupun mushala, kiatan peace santren ini justru kami laksanakan di salah satu gedung milik Gereja dan pesertanya pun dari agama Islam dan Kristen. Penempatan lokasi dan peserta ini kami pilih dengan maksud untuk ruang pertemuan bagi komunitas anak-anak Islam dan Kristen yang selama ini tidak pernah mereka dapatkan setelah pasca konflik Maluku tahun 1999, terutama bagi anak-anak dari kecematan Gemba tempat dimana kami melaksanakan kegiatan. Kegiatan dimulai dengan suasana yang begitu canggung, peserta yang tedari dari beberapa komunitas Islam dan Kristen ini duduk secara terkotak – kotak, dan hanya melirik satu sama lain tanpa menyapa. Bukan karena mereka tak mau menyapa tetapi konflik kelam 1999 yang lalu masih telihat jelas terpatri di dalam diri mereka. Pertama kali melihat hal ini sempat membuat ku bingung seakan tidak percaya bahwa “Gong Perdamaian” yang ada di Maluku sebagi lambang telah damai nya masyarakat Maluku tapi pada kenyataan masih ada goresan-goresan kecil di dalam masyarakatnya bahkan bagi anak-anak yang tidak ada dimasanya ikut merasakannya. Untuk memecahkan kecanggunggan tersebut kami melalukan beberapa permainan yang menuntut mereka untuk saling berkolaborasi. Perlahan suarana terasa sedikit tercairkan. Selama kegiatan berlansung selain mengajarkan 12 Nilai Perdamaian, kami juga mengundang  Pendeta dan Ustad untuk menyampaikan materi tentang persabatan, toleransi, perdamain serta kekeluargaan. Selain materi-materi diatas kita juga menjadikan kegiatan benyanyi bersama sebagai perekat bagi anak-anak dan pendamping setiap komunitasnya. Pada akhirnya mereka yang tadi nya berjauhan bisa menjadi sahabat yang dekat serta akan melanjutkan kegiatan serupa di berbagai komunitas islam dan Kristen di tempata yang berbeda di kab. Seram Bagian Barat. Tangis haru pun mengakhiri kegiatan dua hari tersebut sebagai lambang persaudaran antar kami.

Setelah mengikuti sekolah cerdas saya merasa untuk tetap siaga danNilai  lebih peduli terhadap lingkungan dan orang- orang disekitar saya serta meningkatkan kesiap siagaan dalam diri saya sacara pribadi tehadap bencana sosial maupun bencana alam disekitar saya. Selain itu selama saat mengajarkan 12 Nilai Dasar Perdamaian secara secara tidak lansung saya juga ikut belajar dan merasakan manfaatnya teutama saat merefleksikan sudah sebatas mana saya bisa menerima diri saya, menghargai orang, perbedaan budaya, serta sudah seberapa berani nya saya mengakui kesalahan dan meminta maaf dan berlapang dada untuk memaafkan orang lain. 3 bulan menjadi bagian dari program sekolah CERDAS bukan hanya sarana bagi saya untuk berbagi dengan teman-teman di daerah tetapi juga belajar dari mereka terlebih tentang kehidupan bermasyarakat. Terakhir saya bersyukur dan bangga menjadi bagian dari program sekolah CERDAS.

 

Penulis: Widodo (Kakak  Cerdas dari Jambi, penempatan di Maluku)

Kamu AoP punya cerita perubahan? Kirimkan ceritamu ke aop@peacegen.id

 

Daftar untuk mendapatkan info & promosi menarik!