Yusuf: Dari Teosentris menuju Antroposentris, Potret Keberagamaan Milenial

Narasi Awal

Syiah berencana menSuriahkan Indonesia dalam rentang waktu 2015-2020. Orang-orang syiah ini sudah menyiapkan senjata untuk melakukan revolusi untuk mengambil alih kepemimpinan. Barangkali kita merasa baik-baik saja hari ini. Namun, besok ketika hal itu terjadi, kita hanya bisa menyesali apa yang kita diamkan selama ini. Maka, selagi masih ada waktu, kita harus mempersiapkan diri dengan i’dad (persiapan fisik) untuk menghadapi apapun yang akan terjadi. Orang-orang yang selama ini apatis dan masa bodoh, akan menjadi orang yang paling menyesal ketika keluarganya besok dibantai oleh orang-orang syiah di depan matanya sendiri.

MUI sudah dengan jelas mengeluarkan fatwa kesesatan syiah. Dalam buku kecil yang diterbitkan oleh MUI, dijelaskan panjang lebar mengenai kesesatan mereka, beserta aktivitas-aktivitas yang mereka lakukan sampai hari ini. Buku ini sudah tersebar dengan begitu massif, terutama di kalangan aktivis Islam.

Sementara mengantisipasi revolusi di Indonesia, kita juga dihadapkan pada permasalahan di Suriah yang tak kunjung usai. Abdullah Azzam, dalam bukunya Tarbiyah Jihadiyah, mengatakan bahwa wajib hukumnya bagi seluruh umat Islam yang mampu, untuk ikut jihad di Afghanistan. Hal ini mengingat Abdullah Azzam hidup di masa ekspansi Rusia di Afghanistan. Dengan pendapat ini dapat kita simpulkan bahwa wajib hukumnya bagi kita untuk ikut berangkat ke Suriah. Membela saudara-saudara kita yang dibantai oleh orang-orang syiah.

Bagi setiap muslim yang mampu dari segi finansial, bahasa, dan fisik, namun tidak berangkat ke Suriah, maka hukumnya sama dengan pezina dan peminum khamr, sekalipun ia seorang guru agama. Seorang kiai yang duduk-duduk saja tanpa ikut berperang, ikut menanggung dosa setiap jiwa yang gugur di Suriah sana.

Selain itu, kita juga mempunyai masalah dalam sistem kenegaraan. Amman Abdurrahman misalnya, menyatakan bahwa Pancasila memang thagut, dan haram untuk diikuti. Sehingga, kita sebagai umat Islam tidak boleh menerima Pancasila sebagai falsafah negara. Bahwa Islam adalah diin wa daulah, agama sekaligus pemerintahan. Islam mengatur sistem pemerintahan menggunakan sistem khilafah. Kita tentu masih ingat dengan hadits riwayat Imam Muslim yang berbunyi “barangsiapa mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada imam/khalifah), maka ia mati dalam keadaan jahiliyah”.

            Sejauh ini, selalu ada orang-orang pengekor barat dan pemuja hawa nafsu yang memutar-balikkan ajaran-ajaran agama semau perut mereka sendiri. Orang-orang liberal ini dengan sangat vulgar mempromosikan demokrasi, kebebasan berekspresi, kesetaraan gender, dan pluralisme agama tanpa malu-malu. Mereka ini derajatnya sudah sampai pada kekafiran, sekalipun dipanggil dengan kiai. Darah mereka adalah halal.

Momentum munculnya ISIS yang mendeklarasikan diri sebagai khilafah Islamiyah menjadi angin segar bagi kita. Sehingga, yang sebelumnya kita tidak bisa hijrah karena memang tidak ada tempat untuk hijrah, sekarang ada ISIS yang dapat menjadi tempat hijrah. Keluar dari negara kafir penganut demokrasi ini. Sedangkan, bagi saudara-saudara kita yang tidak sepakat dengan ISIS, dan mengatakan bahwa ISIS adalah sempalan yang keluar dari jamaah Al-Qaeda, masih harus bersabar karena Al-Qaeda belum mampu mendirikan khilafah. Dan sayangnya, kita akan arahkan moncong senjata kita kepada siapapun yang menolak kekhilafahan ISIS.

Semakin lama, semakin banyak klaim sesat terhadap ISIS yang datang dari ulama-ulama jihadis lainnya. Baiklah, kali ini kita harus agak kompromis. Minimal, kita tetap berada di barisan Al-Qaeda yang terus berjuang untuk kebebasan Umat Islam. Perjuangan-perjuangan ini harus terus kita dukung untuk menghancurkan rezim Fir’aun kontemporer, dan menghilangkan neo jahiliyah di atas muka bumi. Sebagaimana perintah Allah dalam surat Al-Anfal ayat 39 yang artinya: “dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah semata”. Allahu Akbar!

Pergeseran Paradigma

            Saya menempuh pendidikan dari SMP hingga SMA di suatu pesantren. Saya terhitung orang yang cukup doyan dengan buku-buku yang ada di perpustakaan. Buku yang saya baca pun beraneka ragam, sepanjang tersedia di rak perpustakaan. Saya pernah menyelesaikan Tarbiyah Jihadiyah karya Abdullah Azzam yang berjumlah belasan jilid. Pun buku Abdullah Azzam yang lain seperti Ayat ar-Rohman fii Jihadi Afghan, dan lain-lain. Selain itu, buku Ma’alim fii ath-thoriq karya ideolog Ikhwanul Muslimin, Sayyid Quthb, buku-buku ulama Al-Qaeda seperti Abu Mush’ab As-Suri. Dan buku-buku pengikut mereka di Indonesia seperti Amman Abdurrahman, Imam Samudra, dan lain-lain.

Masuknya pemahaman melalui literatur-literatur itu didukung dengan lingkungan dengan semangat keislaman yang cukup tinggi, dan akses keberagaman sosial yang rendah. Hal ini melahirkan ideologi jihadis dengan cukup baik. Namun, semakin banyak aktivitas yang dilalui, rasanya semakin banyak yang perlu dipelajari lebih dalam.

Ketika saya masuk ke lingkungan Muhammadiyah melalui Ikatan Pelajar Muhammadiyah, saya mempertanyakan penerimaan Muhammadiyah terhadap Pancasila. Muhammadiyah mengistilahkan Pancasila dengan daar al-‘ahdi wa asy-syahadah (negara konsensus dan persaksian). Disinilah awal mula perseturuan ideologi dalam kepala saya mulai muncul. Muncul pertanyaan-pertanyaan seperti “apa yang salah dengan Muhammadiyah?”, “kenapa Muhammadiyah menerima Pancasila?”, “masihkan islami Muhammadiyah itu?”, dan seterusnya.

Saya pun berkesempatan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Masih sama-sama di pesantren, tapi pesantren kali ini agak berbeda. Di pondok milik salah satu Perguruan Tinggi Muhammadiyah ini, literatur yang tersedia agak berbeda. Perpustakaan utama memang menyediakan seluruh varian bacaan dari berbagai kalangan. Namun, buku-buku yang terdistribusi dengan baik ke senior dan teman-teman di kamar adalah buku-buku kontra wacana dari gagasan penulis sebelumnya.

Ahmad Syafii Maarif mengawali dengan gagasan anti khilafah dengan pisau analisa sejarah yang begitu dalam. Artikel-artikel Mun’im Sirry yang tersebar luas di media juga menjadi asupan kontra narasi yang cukup efektif. Kedua tokoh ini memberikan gambaran betapa naifnya gagasan khilafah Islamiyah yang sekedar romantisme sejarah belaka. Sekaligus mempromosikan Islam yang moderat di Indonesia. Bahwa Indonesia diharapkan mampu menghadirkan wajah Islam yang damai, berbeda dengan carut-marutnya keadaan Timur Tengah hari ini. Hal ini diulas panjang lebar oleh Buya Syafii dalam bukunya Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam.

Gagasan rekonstruksi maqashid syariah Jasser Auda juga turut menjadi kontra wacana yang efektif. Dulu, di pesantren yang pertama, diajarkan bahwa tingkat pertama maqasid syariah adalah hifz ad-diin, (menjaga agama). Hifz ad-diin diartikan dengan berjihad melawan agama lain untuk mempertahankan aqidah. Umat Islam harus memproteksi diri dari agama lain, agar tidak terkontaminasi dari ajaran sesat dalam agama lain.

Jasser Auda merubah pemahaman itu. Ia mengatakan bahwa hifz ad-diin adalah menjaga kebebasan beragama seluruh umat manusia, dan menciptakan perdamaian di tengah-tengah perbedaan agama. Karena Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam. Bukan rahmat bagi umat Islam semata. Bahwa Islam adalah agama damai, mencintai perdamaian, dan membebaskan orang lain untuk menganut agama apapun. Tidak ada paksaan dalam beragama. Bahwa kita tidak lagi membela Tuhan kita masing-masing, namun kita berfikir bagaimana cara agar kita dapat hidup berdampingan dengan aman tanpa konflik apapun. Dari semangat teosentris menuju semangat antroposentris.

Haedar Baghir adalah salah satu tokoh yang diklaim sebagai orang syiah dan sedang menyembunyikan kesyiahannya dengan cara taqiyyah. Bukunya, Islam Tuhan Islam Manusia, adalah buku sesat yang dilarang untuk dibaca dalam perspektif saya yang lama. Namun, sebagaimana dijelaskan diatas, saya adalah tipe orang yang tidak suka memilih bacaan. Semua buku harus dibaca, sepanjang tersedia di rak perpustakaan. Dalam buku Islam Tuhan Islam Manusia ada kalimat yang sangat indah dan sangat disayangkan jika dilewatkan, yang berbunyi:

“aku yakin, bahwa pada dasarnya makhluk yang bernama manusia ini bisa diajak berinteraksi secara persuasif, asalkan kita telaten dalam mengajukan hujah-hujah kita yang meyakinkan kepada mereka. Dan juga karena aku sadar bahwa jangan-jangan perbedaan yang begitu besar antara aku dan mereka banyak juga disumbang oleh kurangnya dialog yang produktif dan silaturahmi yang tulus di antara kami. Aku yakin bahwa ketidaksabaran untuk mendengar pendapat orang lain merupakan produk sikap sombong, merasa benar sendiri, melecehkan orang lain, yang justru menjadi musuh keterbukaan, pluralisme, dan demokrasi.”

Konflik yang selama ini muncul, ketegangan-ketengan sunni-syiah, ketegangan orang-orang konservatif dan liberal, dan lain-lain, barangkali hanya disebabkan oleh miskinnya dialog yang kita ciptakan. Atau jangan-jangan justru sama sekali tidak ada dialog. Termasuk ketegangan antar-agama. Di Solo, beberapa waktu yang lalu, diadakan Parade Tauhid sebagai kontra wacana Parade Salib yang diadakan beberapa hari sebelumnya. Umat Islam di Solo merasa perlu menunjukkan diri dan tampil di panggung untuk menegaskan bahwa mereka masih mayoritas. Saya kira, hal ini merupakan salah satu indikasi minimnya silaturahmi yang tulus antara kita.

Semangat untuk menciptakan kerukunan beragama dalam ruang publik kita masih kalah dengan kepentingan untuk membela Tuhan kita masing-masing. Masih kalah dengan keinginan untuk diakui sebagai mayoritas, yang paling kuat, dan yang paling benar. Peristiwa penolakan dai-dai dan ustadz-ustadz tertentu juga merupakan egoisme dan perasaan yang paling benar.

Salah satu cara untuk mengakhiri seluruh ketegangan ini adalah dengan interaksi yang sehat, dialog yang produktif, dan silaturahmi yang tulus, jujur, dan bertujuan untuk mencapai kalimah sawa’, persetujuan, benang merah, dan kebenaran bersama. Jika toh hal itu tidak dapat ditemukan, maka setidaknya kita saling menghormati dengan cara masing-masing. Saling berempati terhadap orang lain tanpa memandang identitas-identitas primordial yang bersifat sementara, sedangkan kemanusiaan kita bersifat abadi.

Peace Generation

            Bersamaan dengan perubahan paradigma yang saya alami, saya bertemu dengan komunitas yang membuat saya semakin yakin bahwa Islam adalah agama damai. Saya bertemu Peace Generation di awal 2018 ketika Peace Generation Indonesia mengadakan Boardgame for Peace yang pertama di Solo. Dengan izin Allah, saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi official dan learning partner dalam kegiatan tersebut. Di tengah transisi paradigma yang cukup melelahkan, narasi Peace Generation menjadi bandul penentu yang sangat penting.

Peace Generation mengingatkan kepada saya bahwa perdamaian menjadi salah satu parameter keberhasilan hidup di dunia. Selain itu, ia juga menjadi inti ajaran Islam sekaligus agama yang lain. Melalui Peace Generation, saya bertemu orang-orang yang berkomitmen untuk menjaga hati nurani yang peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan, berkomitmen untuk mewujudkan perdamaian, berkomitmen untuk secara tulus menghargai kehidupan orang lain. Tanpa topeng, tanpa drama.

Saya meyakini bahwa Peace Generation menjadi alat yang ampuh untuk menyebarkan nilai-nilai perdamaian kepada masyarakat yang lebih luas. Lebih-lebih, saya memiliki masalah kesulitan menyampaikan narasi kepada khalayak luas karena perbedaan bahasa. Dengan PeaceGen, saya belajar bahasa-bahasa perdamaian yang lebih sederhana agar dapat disebarkan dan dikampanyekan dengan lebih luas. Terimakasih Peace Generation!

 

Penulis : Yusuf R Yanuri (Div Program Peace Generation Solo)

Kamu AoP punya cerita perubahan? Kirimkan ceritamu ke aop@peacegen.id

Daftar untuk mendapatkan info & promosi menarik!