Siswa Muslim dan Kristen Siap Jadi Agen Perdamaian

Akhir-akhir ini, maraknya sikap intoleransi dan kekerasan di kalangan anak muda menyisakan jurang pemisah dan stigma antar kelompok masyarakat. Komunitas Muslim dan Kristen yang termasuk di dalamnya.

Melihat itu, Peace Generation Indonesia bersama para pendidik dan pelajar terus berupaya membangun jembatan di antara jurang pemisah itu melalui pendidikan perdamaian dan permainan kreatif.

Salah satu upaya membangun jembatan itu terlihat pada selasa, 23 Juli 2019, di Kota Bandung. Hari itu, 30 pelajar SMP Muhammadiyah 8 Antapani dan SMP Kristen Yahya saling bertemu dan belajar memaknai arti damai di lingkungan sekolah mereka.

Menurut Kepala Sekolah SMP Kristen Yahya, Sony, kegiatan ini adalah rangkaian ketiga. Sebelumnya telah dilakukan di SMP Muhammadiyah 8 Antapani. “Dan kali ini menjadi spesial, karena kita semua ada di sini, baik dari dua sekolah juga dari para founders Peace Generation” ujar Sony. 

Didampingi para Guru beserta kepala sekolah, para pelajar SMP Muhammadiyah 8 Antapani sangat antusias. Terlihat senyum mengembang di antara mereka. Acara bertajuk “Breaking Down The Walls” ini adalah bentuk follow up dari program pendidikan perdamaian.

Taufik, Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 8 Antapani menyambut acara ini dengan penuh semangat. “Wajah damai Indonesia kedepan akan ditentukan oleh anak-anak sekarang, oleh karena itu sikap toleransi dan budaya damai disekolah perlu diperkuat dan dibiasakan hingga menjadi karakter dan identitas kita saat ini.” ucap Taufik.

Acara semakin menarik ketika Irfan AmaLee dan Erik Lincoln secara langsung mengajarkan nilai damai yang kedua “No Prejuidice, No Prasangka.” Anak-anak diajak mengalami langsung bagaimana respons dan sikap seseorang terhadap orang yang berbeda.

Baca juga keseruan Chapter Sulteng dalam Breaking Down The Walls!

Di sesi itu dijelaskan bahwa seringkali kita lebih banyak menghakimi daripada mendengar dan memahami orang yang berbeda dengan kita. Di akhir sesi, Erik mengajak peserta untuk merenung dan saling mendoakan untuk kebaikan sekolah masing-masing.

Acara diakhiri dengan bermain board game Galaxy Obscurio. Anak-anak ditantang untuk berbaur, berinteraksi, dan bekerjasma dalam perbedaan untuk merawat sebuah galaksi dan menangkal banyak virus. Acara ditutup dengan pembacaan janji damai yang dipimpin oleh perwakilan kedua sekolah.

Janji damai dilakukan di antaranya diantaranya untuk menerima diri dengan penuh syukur, memandang orang  orang lain penuh dengan rasa hormat, menghargai perbedaan, menolak cara kekerasan dalam menyelesaikan masalah, penuh welas asih dan ampunan dan berkomitmen menyebarkan damai dimulai dari diri, keluarga, komunitas dan dunia.

Peace People, untuk mengetahui informasi teranyar dari PeaceGen, jangan lupa untuk klik di sini!

Penulis : Miftahul Huda

Editor: Hayati dan Faza Rahim

Daftar untuk mendapatkan info & promosi menarik!