CERITA HALAL BIHALAL AOP 2020

30 Juni 2020 – jam 16.00 Peace Generation mengadakan acara Halal Bihalal virtual. Sekitar 40 AoP hadir dari berbagai kota Indonesia; Aceh, Riau, Palu, Purwokerto, Malang, Solo, Nganjuk, Sidoarjo, Mujokerto, Jakarta, dan Bandung. Halal Bihalal ini terasa sangat spesial karena dihadiri oleh Founder Peace Generation yaitu Pak Erick Lincoln.

Sesi pertama, peserta diminta untuk berbagi satu hal apa yang disyukuri waktu ini. Banyak dari peserta yang berbagi tentang kesyukuran mereka adalah kesehatan yang mereka miliki, berkumpul dengan keluarga dan masih melakukan aktivitas yang positif di tengah-tengah masa pandemi ini.

Kemudian, sesi dilanjutkan dengan berbagi dari input: Apa makna peran AoP di masa pandemi kali ini? Bagaimana moment lebaran di daerah teman-teman?

Pak Erick: Lebaran ini memang beda dari biasanya. Saya ikut merasakan sedih karena kebiasaan-kebiasaan ramai seperti tarawih tidak bisa dilaksanakan di RW kami. Biasanya saya datang ke rumah orang, makan ketupat, tetapi kali ini tidak bisa, tidak bisa keliling. Tetapi kami sangat terhibur ada 2 orang; 1 orang sunda, 1 orang padang yang antar ketupat ke rumah kami. Lebih dari ketupat ini, kami sangat merasa diterima dan dihormati.

Mudiul Hayat: Cukup menarik. Lebaran kali ini, saya merasakan 2 rasa; sedih dan bahagia, sedih karena tidak bisa pulang kampung ke Medan, bahagia karena di perumahan tempat saya tinggal ini biasanya setiap warga tidak terlalu silaturhami, tetapi sekarang bisa silaturahmi dengan para tetangga. Dengan pandemi ini, kami bisa silaturahmi ke semua orang-orang di perumahan ini. Jadi seperti Allah bilang, jangan hanya silaturahmi ke orang-orang yang jauh, tetapi tidak bisa silaturahmi ke orang-orang yang dekat atau para tetangga. Ini bagi saya pelajaran yang sangat besar.

Jessy: Di saat pandemi ini, AoP Aceh sudah sadar dan kita bareng-bareng dengan komunitas lain, membuat Face Shield dan disumbangkan ke satu Rumah Sakit. Terus moment lebaran kami, saya dan istri saya dan AoP Core team Aceh berkunjung ke satu rumah teman AoP Aceh yaitu Afdha, dan sampai di rumah Afdha pada waktu sholat subuh, dengan spontan ibunya Afdha menyodorkan alat sholat pada kami, dan karena kami non muslim akhirnya Afdha bilang ke Ibunya kalau kami non muslim, dan respon Ibu Afdha, “Oh…. Tidak apa-apa, kita sama, sama-sama manusia”. Kami sangat tersentuh dengan penerimaan ibunya Afdha.

Ibu Provita: Selama 2 bulan ini, di kota Solo ini zona merah, saya merasa harus berdamai dengan diri saya dulu dan lingkungan saya. Saya memilah-milih mana yang kebutuhan dan mana keinginan saya. Saya lebaran ini tidak bisa mudik dan ada hikmahnya. Selama ini kami tidak pernah lebaran di perumahan dan disini banyak non muslim, jadi bisa saling sapa dan silaturahmi ke semuanya.

Sherina: Saya salah satu Fasilitator PeaceSantren Kediri. Awalnya saya ragu apakah PeaceSantren di Kediri bisa atau gak ya. Tetapi meskipun sedikit, peserta semuanya konsisten dan semangat banget.

Yusuf: Tim Solo sedang melakukan Breaking Down The Wall (BDW) dan sedang di tahap Training for Peace Educator. Kami mencoba semua applikasi untuk memaksimalkan training online ini. Akhirnya kita pakai WA group, PPT, Podcast lewat Spotify. Training ini dilakukan pada 200,000 dari 2 sekolah. Saat ini kami juga sedang mencari strategi implementasi pada siswa.

Ninin: Kali ini, Alhamdulillah bisa melakukan PeaceSantren. Setelah selesai, peserta minta diajarkan 12 Nilai Dasar Perdamaian semuanya.

Atus: Ramadhan kali ini benar-benar luar biasa, karena bagi Tim kami Purwokerto, kami melakukan pertama kali kegiatan PeaceSantren. Dari PeaceSantren ini, kami merasa tambah solid secara Tim. Banyak hal yang sangat menyentuh dari peserta. Peserta mengakui efek dari bully itu masih sangat terasa. Dan mereka mau terus bercerita atau berbagi dengan kami. Kalau lebaran, sama seperti yang lain, tidak bisa ketemu langsung, jadi kami maaf-maafan lewat WA dan video call.

Avicenna: Kami Tim Aceh saling memeri semangat satu sama lain dan menggalang donasi, dan silaturahmi dengan berkunjung langsung ke rumah teman-teman AoP. Juga kami menggalang sembako untuk dibagi-bagi.

Setelah sesi sharing, Pak Erick menanyakan, “Apakah diantara AoP kita ada yang kehilangan pekerjaan?”

Huda menjawab, “yang saya tahu dari Palu, Adam, dengan pandemi ini dia semua bisnisnya harus tutup, tetapi sekarang dia sudah pulih dengan bisnis desainnya.”

Sebelum ditutup dengan doa oleh Bang Suka, Pak Erick memberikan kalimat penutup yaitu,” If life give you lemon, make lemonade”, kalau hidup memberimu lemon atau sesuatu yang asam, maka bikinlah minuman lemon atau olahlah rasa yang asam ini ke sesuatu yang bisa kita manfaatkan lagi.

Demikian acara Halal Bihalal dilakukan.

Oleh: Hayati

Daftar untuk mendapatkan info & promosi menarik!