Hal-Hal Baik yang Dapat Kita Petik Dari COVID-19

Sisi positif bisa dipetik dari beragam fenomena dan kejadian yang terjadi di sekitar kita. Tak terkecuali situasi pandemi yang sedang melanda dunia. Lantas bagaimana kita menyikapinya?

Pertanyaan itu terjawab dalam sebuah Online Learning dari Peace Academy yang berkolaborasi dengan trustbuilding.ID. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 3 Mei 2020 yang dimoderatori oleh Miftahul Huda serta dihadiri oleh kedua narasumber yang sangat spesial, yaitu Wendi Wijarwadi (Praktisi Pengembangan SDM & Alumni University of Minnesota) dan Tsurayya Hidayat (Project Officer “Ayo Main!” Peace Generation Indonesia).

Di masa pandemi ini, jika kita telaah lebih dalam, banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil dan menjadi refleksi untuk diri kita. Tsurayya menyampaikan bahwa saat ini kita berada dalam situasi yang sulit, yang kita tidak tahu kapan akan berakhir. Namun, dari situasi ini kita bisa belajar banyak hal. Diantaranya tentang hubungan dengan diri sendiri dan hubungan dengan sesama serta lingkungan. “Mungkin selama ini kita tidak terlalu memikirkan diri kita secara utuh. Baik fisik maupun psikis. Bahwa selama ini kita tidak menjaga kebersihan, makanan kurang diperhatikan gizinya, jiwa yang tidak pernah kita dengarkan apa maunya, dan lain-lain. Dengan situasi ini, yang mengharuskan kita sendiri. Benar-benar sendiri. Mungkin kita diberi kesempatan untuk melihat lebih jauh ke dalam diri kita.” Ungkapnya.

Situasi ini bukan hanya mempengaruhi keseimbangan diri kita, tapi juga mempengaruhi ketersediaan pangan untuk manusia di muka bumi. Ketika semua aktivitas harus dihentikan, ekonomi tidak stabil, daya beli menurun, produksi pangan juga terancam terhenti. Lebih jauh lagi, mengenai pendidikan juga sangat terpengaruh. Di mana sekolah tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pendidikan. Orang tua memiliki tanggung jawab lebih dari biasanya untuk menggantikan tugas guru di sekolah. 

Pada akhirnya, kendali ada pada diri kita. Apa yang bisa kita lakukan?

Wendi Wijarwadi berpendapat bahwa kita tidak bisa melihat Covid-19 ini hanya dari sudut pandang kesehatan. Jauh dari itu, pandemik ini mengajak kita untuk melihat sudut pandang lain yang terpengaruh, seperti pendidikan. Banyak orang tua mengeluh ketika harus menggantikan peran guru di sekolah. Hal itu membuat kita harus lebih menumbuhkan rasa empati kepada orang lain. 

Mengacu pada “Color Blind”, organisasi yang bergerak untuk menyadarkan manusia bahwa kita semua sama dan menghapuskan stigma, Covid-19 salah satu contoh yang berhasil memperlakukan “Color Blind” pada manusia. Covid-19 tidak memandang siapa dan darimana kita berasal. Semua bisa terjangkit. 

Disatu sisi, Covid-19 memperlambat aktivitas kita. Tapi disisi lain, mempercepat banyak hal. Salah satunya budaya “online”. Dahulu ketika pemerintah mencanangkan gerakan merdeka belajar dan belajar dimana saja. Namun, banyak orang yang meragukan. Tapi, sekarang mau tidak mau, kita dipaksa melakukan itu dengan cepat. Banyak seminar dan kelas-kelas online yang bermunculan. Dahulu kita tidak terbiasa. Tapi, sekarang kita dipaksa untuk terbiasa. Orang-orang menyebutnya dengan “The New Normal”.

Hal lain yang menjadi bahan refleksi adalah dari sekian banyak “The New Normal” yang timbul, mana yang akan bertahan sampai Covid-19 ini selesai? Jangan-jangan hal positif yang berubah dalam masa pandemi ini justru nanti kembali hilang dan kembali seperti biasanya. Satu hal lagi yang kita sadari adalah jurang pemisah antara orang kaya dengan orang miskin semakin terlihat. Orang kaya mungkin biasa-biasa saja dengan situasi ini. Tapi, orang miskin menjadi lebih sengsara. Dalam hal ini, pemerintah harus segera menutup jurang-jurang pemisah itu agar disparitas kaya miskin tidak semakin melebar. Kalau kita tidak bisa mengalahkan musuh, maka berdamailah atau hidup berdampingan dengannya.

Kehangatan yang diciptakan dalam online learning kali ini, membuat para peserta aktif terlibat dan semangat untuk berbagi pengalaman. Seperti yang disampaikan oleh beberapa orang berikut ini :

“Saya memiliki concern bahwa Covid-19 ini bukan hanya akan mengakibatkan ketimpangan ekonomi, tapi juga ketimpangan pendidikan. Karena tidak semua orang bisa mengakses pendidikan yang sama. Menurut saya, yang menjadi permasalahan di Indonesia saat ini adalah beban belajar yang berlebihan. Di tengah situasi yang stressing, sekolah justru malah makin membuat stres anak-anak. Kemudian, hal inilah yang harus kita pikirkan dan mengatasinya bersama.” Husnul – Amerika

“Saya menjadi orang yang lebih menghargai makanan. Terlebih saat ini, saya mendengar banyak sekali orang-orang yang kekurangan makanan dan kelaparan.” Pipit – Bandung

“Hal yang sama juga saya rasakan di Jepang. Saat ini, saya sedang melakukan penelitian untuk studi saya. Namun, situasi pandemi ini yang akhirnya membuat penelitian saya terhambat. Karena alat-alat penelitian tersebut ada di kampus.” Dimas – Jepang

Dari online learning “What does Covid-19 teach you?” ini, kita bisa mempelajari banyak hal dan menjadikannya sebagai bahan untuk berefleksi dan introspeksi diri. Tentunya, kita juga harus sama-sama berjuang untuk mengatasi dan melalui situasi pandemi ini. Karena berjuang bersama akan lebih berarti daripada sendiri yang mungkin hanya mendatangkan sepi.

Oleh : Tim Peace Academy [Mahendra, Anisa] Editor [Hayati & Faza]

Daftar untuk mendapatkan info & promosi menarik!