Online Learning “Tumbuh Kuat di Tengah Pandemi”

Saat ini, dunia sedang menghadapi situasi pandemi. Covid-19 betul-betul melemahkan seluruh dunia dalam berbagai lini. Ruang gerak dibatasi, situasi yang tidak nyaman dan simpang siur, memberi dampak besar bagi hidup kita. Namun kita bisa memilih, tenggelam atau tumbuh. Kita perlu tahu bagaimana sikap kita menghadapi situasi ini.

Sebagai bentuk nyata dari sebuah sikap, Peace Academy hadir untuk menjawab problematika itu dengan mengadakan  Online Learning yang bertemakan “Tumbuh kuat di tengah pandemi”, 15 April 2020.

Pelatihan virtual kali ini dihadiri oleh 67 peserta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia,  antara lain dari Aceh, Padang, Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Timur, Makassar hingga Kalimantan. Semua bersatu dalam rasa rindu, akan pertemuan untuk saling menguatkan. Menghadirkan  Irfan Amalee dan Eric Lincoln ( Co-Founder Peace Generation) sebagai narasumber, diskusi hangat ini dimoderatori oleh Anisa.

Di sesi pertama, Irfan Amalee menyampaikan, bahwa ditengah wabah ini ada banyak hal yang tidak kita sadari. Sejatinya, kita tetap terhubung satu sama lain. Awalnya kita berpikir virus ini hanya di Wuhan. Tidak akan sampai ke Indonesia. Tapi tanpa disadari setiap manusia dimuka bumi ini memiliki koneksi sehingga akhirnya menyebar ke seluruh dunia.

Menyikapi pandemik ini, ada beberapa sikap utama yang harus kita miliki. Salah satunya adalah dibutuhkan resilience. Resilience artinya ketahanan. Ketahan ini berbentuk : (1) Advacing, goal orientation dalam situasi apapun, (2) Despite, proactive dalam segala keadaan dan (3) Adversity, ketahanmalangan.

kemampuan adaptability/adaptasi juga menjadi sikap utama yang kita butuhkan. Mari sejenak kita belajar dari kisah Dinosaurus dan kepunahannya. Mereka hewan besar, tapi mengapa bisa punah? Karena kemampuannya yang kurang dalam beradaptasi. Menurut Darwin, kunci untuk bertahan itu bukan kekuatan tapi kemampuan adaptasi. Jika kita kaitkan dengan situasi saat ini, mengapa banyak sekali orang-orang yang bekerja sebagai pedagang, pembisnis dan lain sebagainya terhenti bahkan terancam bangkrut? Hal itu karena kurangnya kemampuan beradaptasi dalam situasi ini.

Maka, kita bisa belajar dari Q.S. Ar-Ra’d ayat 17 yang artinya “…Adapun buih akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya. Adapun yang memberi manfaat akan kepada manusia maka akan tetap di bumi”. Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa kita harus memberi manfaat untuk bisa bertahan.

Eric Lincoln dalam diskusi ini juga menyampaikan tentang 3 zona yang ada di situasi pandemi ini. Diantaranya zona takut, zona belajar dan zona tumbuh. Berikut ciri-cirinya jika kita berada di zona takut :

  1. Marah dan tidak terima
  2. Mengutuk keadaan
  3. Emosi tidak terkendali
  4. Menimbun obat-obatan dan makanan yang tidak diperlukan
  5. Menyebarkan keresahan dan ketakutan
  6. Merasa bahwa seolah-olah Allah tidak membantu hidup kita, kita ingin mengambil alih dan mengatur semuanya.

Ketika kita menginggalkan ketakutan itu, kita masuk ke zona belajar. Diantaranya :

  1. Pasrah terhadap persoalan yang tidak bisa kita kendalikan
  2. Memilah informasi yang bermanfaat dan membuang informasi yang menyebarkan keresahan
  3. Kita mulai mengenali emosi
  4. Sadar akan keadaan dan mulai memahami cara bertindak yang tepat
  5. Berhenti membaca berita yang membuat cemas dan takut
  6. Kita yakin bahwa Tuhan berdaulat dan Maha Kasih

Zona yang terakhir adalah zona bertumbuh. Ciri-cirinya :

  1. Kita mulai memikirkan dan peduli orang lain
  2. Kita berpikir apa yang bisa kita berikan kepada orang lain
  3. Menjalani hari semaksimal mungkin dan fokus menatap masa depan
  4. Berempati pada diri sendiri dan orang lain
  5. Berterimakasih kepada orang lain dan menghargai usaha mereka
  6. Bersikap positif dan menebarkan harapan
  7. Berdiam diri, sabar dan berkreasi
  8. Belajar hal baru dan menyesuaikan diri dengan keadaan

Mari kita merenung sejenak dan bertanya pada diri sendiri; hari ini kita ada di zona mana?.

Jika kita sedang berada di zona takut, bagaimana kita keluar dari zona tersebut? Menurutnya, ketakutan sama sifatnya dengan kesombongan. Kesombongan itu semakin menjadi jika kita terus memikirkan kehebatan diri.

Sama halnya dengan rasa takut. Semakin kita memikirkan tentang ketakutan, maka kita akan semakin takut. Yang menjadi penawar ketakutan bukanlah keberanian, tapi kasih. Semakin kita yakin bahwa Tuhan mengasihi kita dan kita mengasihi orang lain, maka ketakutan itu akan menghilang.

Oleh karena itu, dalam situasi apapun kita berada, kita harus optimis dan jangan putus asa. Optimisme kelak akan membawa kita pada kemudahan. Karena nanti kita akan melihat dunia yang lebih sehat, hidup yang lebih baik dan kesadaran yang baru. Jangan pesimis. Ini bukan akhir dari segalanya. Kita harus tumbuh dan lebih berempati.

Jarak yang memisahkan dan internet yang kadangkala menjadi hambatan, tidak menjadikan online learning kali ini terasa berat dan hampa. Karena kehangatan dan rasa kekeluargaan yang dibangun, telah menimbulkan keakraban, meninggalkan kesan yang baik dan berbagi energi positif kepada semua peserta. Seperti yang disampaikan oleh beberapa peserta berikut ini :

“Sebelumnya saya khawatir dengan wabah yg mematikan ini. Tapi setelah mengikuti online learning, saya memahami bahwa dalam menyikapi pandemi saat ini kita harus lebih dekat kepada Tuhan, dan pikiran ini harus di isi dengan hal-hal positif yang menguatkan kita.” Desemianto Yakat – Makassar

“Sangat menarik. Setiap materi yg disajikan begitu sederhana namun dalam. Walau di tengah media yg terbatas namun saya tetap dapat mengikuti dengan baik dari awal hingga akhir. Saya jadi lebih sadar bahwa benar kita semua saling berhubungan. Tuhan menciptakan kita dalam satu kesatuan bukan terpisah satu sama lain. Di tengah kondisi seperti ini ternyata masih sangat mungkin kita bisa berelasi satu dengan yang lain.” Rina Purnamasari – PG Chapter Banten

“Lebih paham tentang self-awareness, self-determination, self-control, dan self-adaptability. Melindungi diri dari pemicu ketakutan hingga paham akan perlunya saling berbagi dan berbuat baik sesama manusia. Karena sebelumnya saya masih berpikir kalau selama #dirumahaja kita hanya bisa melakukan beberapa hal. Tetapi ternyata nggak sesempit itu, kita perlu self-adaptabiliy seperti yang disampaikan oleh kang Irfan. Dimanapun kita berdiri, kita harus paham seberapa bermanfaatnya kita disini untuk Tuhan, untuk diri sendiri dan untuk orang lain.” Akmal Syam Syam – IAIN Palopo

Ditulis: Tim PeaceAcademy

Editor: Faza

Daftar untuk mendapatkan info & promosi menarik!