Orang Muda di Jalur Pendidikan Islam Part. 1

Masa muda merupakan masanya mengejar cita-cita dan harus diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Salah satunya dengan menuntut ilmu. Menuntut ilmu bukan hanya bisa ditempuh melalui pendidikan formal, tapi juga bisa ditempuh melalui pendidikan pesantren. Lantas bagaimana kehidupan di pesantren atau kita bisa kenal dengan istilah jalur pendidikan Islam?

Pertanyaan itu terjawab dalam sebuah online learning yang diselenggarakan oleh Peace Academy berkolaborasi dengan Sahabat Malik pada tanggal 25 April 2020. Acara ini dihadiri oleh para pionir yang sudah lama berkiprah di dunia pendidikan, yaitu Gus Achmad Ubaidillah Albantani (Pendiri Pusat Studi Pesantren) dan Nyai Hj. Lia Zahirah SQ, MA. (Pengasuh Pesantren Al-Nadhlah) serta dimoderatori oleh Imam Malik Riduan.

Sekilas tentang Sahabat Malik. Sahabat Malik merupakan gerakan kesadaran sosial, dimana pengetahuan adalah milik semua orang. Banyak sekali yang tidak bisa merasakan kemewahan ilmu pengetahuan. Dengan semangat itu, Sahabat Malik ingin berbagi kepada siapapun yang tidak bisa merasakan apa yang kita rasakan dan mengundang teman-teman yang ilmunya lebih luas untuk berbagi kepada kita semua.

Dalam online learning kali ini, Gus Ubaid memulai dengan bercerita tentang pendirian Pusat Studi Pesantren. Pusat Studi Pesantren didirikan pada tanggal 21 September. Tanggal ini sengaja dipilih karena bertepatan dengan Hari Perdamaian Dunia. Semangat dari pendirian pusat studi ini juga karena fokus pada isu perdamaian. Hingga saat ini, PSP sudah menjaring 480 pesantren yang saling terkoneksi dan berjejaring secara intens.

Saat ini, PSP sedang fokus dengan Gerakan Suara Pesantren. Mereka meyakini bahwa pesantren memiliki peran penting dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Sampai sejauh ini, belum ada lembaga yang memiliki jaringan sosial yang sekuat pesantren. Inilah yang mendasari mereka untuk mengumpulkan dan mengkoneksi jaringan pesantren yang begitu luas melalui payung PSP.

PSP berhasil membangkitkan gairah dan semangat para putra-putri kyai di daerah untuk terus berkontribusi pada pesantren dan menjadikan pesantren sebagai garda terdepan untuk menyaring narasi-narasi keagamaan yang negatif.  Salah satu tantangan dari PSP dengan jaringan 400 pesantren ini agar tetap bersatu dan meminimalisir konflik akibat politik. Karena pesantren adalah warisan para pejuang kita untuk memerdekakan Indonesia dan sampai hari inipun pesantren akan tetap menjaga kemerdekaan itu.

Salah satu pesantren yang ada dalam jaringan PSP adalah Pesantren Al-Nadhlah. Sebuah pesantren yang didirikan oleh Nyai Hj. Lia dan PSP inilah yang menjadi pemantik ia untuk lebih semangat dalam mengelola Al-Nadhlah. Beliau tertarik dengan dunia pendidikan sejak masa sekolah di Madrasah Aliyah. Yang kebetulan saat itu ia dan murid lainnya diwajibkan untuk menjadi mentor bagi adik tingkatnya. Ia akan akan merasa bahagia dan bangga ketika mentee nya sukses.

Berlanjut ke dunia perkuliahan dan hingga saat ini ia sangat menyenangi dunia pendidikan. Salah satu alasan yang membuat saya memiliki niat yang kuat untuk masuk ke dunia pendidikan adalah karena saya seorang ibu rumah tangga dan dunia pendidikan memiliki ritme yang fleksibel. Selain itu, antara ia dan suami juga memiliki paham yang sama bahwa akan lebih mudah mengatur antara karir dan keluarga jika lembaga itu mereka yang kelola sendiri. Inilah salah satu alasan berdirinya Al-Nadhlah.

Tantangan dalam mengelola pesantren bukan hanya murid tapi juga wali murid. Seringkali tuntutan yang diberikan oleh wali murid itu berbeda-beda dan tak jarang juga mengajukan permintaan yang aneh-aneh. Kalau seorang pengasuh dan pembina pesantren tidak memiliki kemampuan mengelola konflik, tentu hal itu akan menjadi konflik yang tak ada habisnya.

Salah satu pengalaman terberat adalah ketika ada orang tua dari keluarga broken home yang mengirimkan anak-anaknya ke pesantren. Seringkali anak-anak ini menyampaikan keinginannya untuk bunuh diri. Dengan berbagai cara dilakukan untuk menyadarkan bahwa setiap anak itu berharga, istimewa dan memiliki kesempatan yang sama untuk hidup bahagia serta belajar sebanyak-banyaknya di pesantren.

Bukan hanya tantangan yang kita hadapi ketika hidup di pesantren. Lebih dari itu kita bisa menemukan banyak kebahagiaan dan kenikmatan dalam beribadah. Bagaimana tidak? Di pesantren kita bisa makan bersama, sholat berjamaah, ngaji bersama dan pastinya berharap bahwa kita bisa mendapat keberkahan dari apa yang kita pelajari dan amalkan.

Harapan dengan diadakannya sharing kali ini, kita memiliki semangat dan berkomitmen untuk terus berjuang demi pendidikan di Indonesia, khususnya di keluarga. Baik itu kita yang berjuang di dalam lingkungan pesantren, pendidikan formal, maupun ruang-ruang belajar yang memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Oleh : Tim Peace Academy [Anisa & Mahendra]. Editor : Faza

Daftar untuk mendapatkan info & promosi menarik!