Tak Bisa Lepas Darimu

Kamu cemas kalau gak buka media sosial dalam sehari. Kamu takut ketinggalan update orang lain. Kamu terobsesi mengabadikan setiap momen hidupmu lewat fitur story Instagram, Facebook, dan aplikasi lain.

Kamu khawatir saat postingan kamu dapat likes sedikit. Kamu lebih mementingkan hubungan di dunia maya dibandingkan dunia nyata. Kamu gak bisa lepas dari ponsel.

Nah, apa kamu pernah merasakan hal-hal di atas? Hati-hati, mungkin kamu lagi mengalami fenomena FoMO!

FoMO adalah kependekan dari Fear of Missing Out. Menurut Andrew K. Przybylski (2013), FoMO merupakan ketakukan akan kehilangan momen berharga individu atau kelompok lain di mana individu tersebut enggak dapat hadir di dalamnya.

FoMO ditandai dengan keinginan untuk tetap terus terhubung dengan apa yang orang lain lakukan di media sosial. Singkatnya, FoMO adalah ketakutan akan ketinggalan banyak hal menarik di luar sana alias takut dianggap gak eksis dan gak up-to-date.

Istilah FoMO sebetulnya enggak selalu identik dengan media sosial. FoMO juga terjadi di dunia nyata. Fenomena ini pertama kali diidentifikasi oleh Dr. Dan Herman pada 1996. Tapi, dengan meningkatnya pemakaian media sosial, fenomena FoMO banyak dijumpai pada orang-orang yang begitu kecanduan (addicted) menggunakan media sosial.

Menurut survei Statista Research Department (2013), 56% pengguna media sosial di Amerika Serikat menderita FoMO. Angka tersebut tentunya mengkhawatirkan, mengingat FoMO punya dampak yang juga mengkhawatirkan. Dampak FoMO antara lain:

  1. Putusnya hubungan di dunia nyata karena kurangnya perhatian saat berkomunikasi
  2. Rendahnya tingkat kepuasan dan kesejahteraan hidup
  3. Indikasi keadaan sosial dan emosi negatif seperti kebosanan dan kesepian
  4. Menimbulkan kecemasan sosial
  5. Merasa enggak aman (insecure) terhadap diri sendiri
  6. Kecanduan media sosial

Perasaan harus selalu update pada FoMO berhubungan erat dengan kecanduan media sosial. Beragamnya konten yang ditampilkan melalui media sosial membuat kita menemukan banyak hal baru yang enggak ngebosenin.

Akhirnya, kita makin terikat dengan media sosial untuk menyerap semua informasi menarik yang ada di sana. Padahal, kecanduan media sosial punya dampak buruk.

Menurut survei J. Walter Thompson Intelligence yang diadakan di Singapura, China, dan Amerika Serikat, 57% responden merasa iri pada orang lain di media sosial, 62% merasa tertekan untuk terlihat jenaka (lucu) di media sosial, dan 58% merasa tuntutan dalam bermedia sosial adalah sumber stress.

Tuntutan untuk terus up-to-date memang berpengaruh besar terhadap kecanduan media sosial dan FoMO. Namun ada faktor-faktor lain yang ikut memengaruhi FoMO, antara lain:

  1. Kebutuhan psikologis akan hubungan dengan orang lain (relatedness) yang gak terpenuhi
  2. Kepuasan terhadap kompetensi dan otonomi diri sendiri yang gak terpenuhi
  3. Dorongan untuk membandingkan kemampuan yang dimiliki dengan orang lain
  4. Keterbukaan informasi di media sosial
  5. Usia
  6. Kecenderungan (tendesi) buat merasa lebih keren dari orang lain (social one-upmanship)
  7. Topik yang disebar melalui tagar (hashtag)
  8. Kondisi lelah relatif, danĀ 
  9. Banyaknya stimulus untuk mengetahui informasi

MENCEGAH FOMO

Kebutuhan seseorang akan informasi di media sosial mungkin inevitable (gak terhindari). Tapi selalu ada cara bagi kita buat gak merasa ketergantungan media sosial. Beberapa cara yang bisa kita lakukan sebelum ataupun sesudah terkena gejala FoMO adalah:

  1. Kurangi penggunaan media sosial. Jika sanggup, akhiri bermain media sosial
  2. Perbanyak interaksi dengan orang lain terutama orang terdekat
  3. Rencanakan kegiatan di dunia nyata yang membuatmu merasa tertantang dan bahagia hingga kamu nggak punya waktu buat cek medsos seharian
  4. Senyapkan (mute) notifikasi di hp saat berkegiatan agar perhatianmu tetap fokus, gak terdistraksi
  5. Kelilingi dirimu dengan orang-orang suportif yang menerimamu apa adanya
  6. Belajar untuk lebih menerima diri sendiri dan pahamilah bahwa kamu enggak wajib menjadi lebih keren dari siapapun. Kamu keren dan kebahagiaanmu jauh lebih penting!

Gimana, #PeacePeople? Setelah tau lebih banyak soal FoMO, apa kamu udah siap buat mengurangi penggunaan media sosial atau puasa media sosial?

 

Penulis: Utami Nurhasanah

Editor: Zulkifli Fajri Ramadan

Daftar untuk mendapatkan info & promosi menarik!